Eco Farming Zero Emition Concept - Eco Farming Adalah Pupuk Organik Hasil Penelitian Ahli Pertanian Selama Lebih Dari 8 Tahun Untuk Memperbaiki Tekstur Tanah



Dilihat : 6 kali

Eco Farming Zero Emition Concept

Eco Farming adalah Pupuk Organik Hasil Penelitian Ahli Pertanian Selama lebih dari 8 Tahun


 

Eco Farming ini telah Teruji dan Terbukti

  1. Memperbaiki Tekstur Tanah   
  2. Mencegah Hama Tanaman
  3. Meningkatkan Hasil Produksi
  4. Meningkatkan Kwalitas Produksi
  5. Mempercepat Masa Panen
  6. Meringankan Biaya Produksi

 

Eco Farming Zero Emition Concept bagi Pertanian Indonesia Maju, Eco farming solusi bagi petani yang sedang mengalami masalah dengan pertaniannya.

Apakah tanah pertanian Anda kering dan sulit diolah? Atau, Apakah keinginan menjadi petani organik terhalang karena berbagai alasan?

Tenang, kini ada pupuk organik Eco Farming yang mengusung konsep zero emition concept yang membantu Anda menyelesaikan permasalahan pertanian Anda!

Zero emition concept merupakan konsep pertanian yang dipegang teguh oleh para petani organik, seperti petani Jepang saat ini. Menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan dalam bisnis pertanian mereka mengantar Jepang menjadi salah satu produsen pertanian terbesar di dunia. Saat ini, negara-negara lain turut mengikuti jejak Jepang dalam mempertahankan kelestrian lingkungan dengan menggunakan pupuk-pupuk atau zat hara tanaman yang tidak merusak tanah dan lingkungan mereka.

Defini dari zero emotion concept sendiri adalah pupuk organik super aktif dan pencegah hama tanaman. Pada dasarnya bahan-bahan yang tekandung dalam pupuk organik ini berasal dari tanaman obat yang diperkaya dengan mikroba aktif, plus makro, mikro nutrient. Bahan-bahan tersebut juga digunakan sebagai alternatif pengganti 13 zat unsur hara yang penting bagi tanaman dari tanahnya.

Sayangnya, karena perawatan pertanian organik cukup rumit, petani Indonesia memilih menggunakan pupuk kimia. Walaupun efeknya cukup instan, nyatanya dampak buruk pupuk kimia menyebabkan tanah menjadi keras dan sulit diolah. Keadaan tanah tersebut kerap kali disalah artikan dengan hilangnya tanah lapisan atas (top soil), padahal keadaan ini disebabkan oleh menumpuknya residu atau sisa pupuk kimia yang digunakan selama bertahun-tahun. Tak tanggung-tanggung, menurut penelitian, residu ini telah ada sejak 1969 di tanah Indonesia.

Residu pupuk kimia ini secara tidak langsung akan menyebabkan tanaman di atasnya mengalami penurunan produktivitas yang signifikan. Selain itu, dampak lain dari penggunaan pupuk kimia yang terus menerus adalah struktur tanah yang keras dan sukar diolah, tercemarnya air tanah, berkurangnya kandungan unsur-unsur biologis dalam tanah, hingga berkurangnya daya tahan tanaman terhadap hama. Seluruh dampak di atas pada akhirnya akan mendorong petani untuk kembali menggunakan pupuk kimia lebih banyak lagi.

 

Sebenarnya, Apa yang Dibutuhkan Tanaman?

Lingkaran setan inilah yang harusnya diputus oleh para inovator pertanian Indonesia. Seperti yang kita ketahui bersama, tanah Indonesia tidak hanya bermasalah dengan dampak buruk pupuk kimia, namun juga adanya pengurangan unsur hara. Jurnal Soil Science (1998) menyebutkan bahwa dari sekian banyaknya unsur hara yang ada di alam, terdapat 13 unsur yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Ketigabelas unsur tersebut dinamakan dengan unsur hara essensial.

Unsur essensial ini dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu unsur hara mikro dan makro. Unsur hara mikro, seperti namanya, merupakan unsur yang paling utama. Unsur hara kembali dibagi menjad dua jenis, yaitu unsur hara makro utama da unsur hara makro sekunder. Bagi tanaman, unsur ini dapat diibaratkan sebagai energi. Terdapat tiga unsur makro utama, diantaranya yaitu, Nitrogen (N), Phospor (P), dan Kalium (K). Ketiga unsur makro tersebut dapat diperoleh melalui udara, tanah, NPK, urea, Tsp, KCL, dan lainnya. Jika diibaratkan dengan makanan manusia, unsur hara makro ini setara dengan nasi yanng dikonsumsi manusia sehari-hari.

Selain utama, terdapat pula unsur hara makro sekunder. Unsur ini terdiri dari Sulfur (S), Magnesium (Mg, dan Kalsium (Ca). Ketiga unsur tersebut dapat diperoleh melalui tanah, dolomite, kapur pertanian, dan ZA. Selanjutnya, terdapat unsur hara mikro. Unsur ini terdiri dari Boro (B), Seng (Zn), Mangan (Mn), Tembaga (Cu), Molbdenum (Mo), Natriium (Na), Aluminium (Al), dan lainnya. Tanaman mendapapat unsur mikro di dalam tanah, kompos, pupuk kandang, dan bokashi.

Tapi, apakah lengkapnya unsur hara cukup? Tentu tidak. Tanaman membutuhkan lima unsur untuk mampu bertahan hidup secara subur. Kelima unsur tersebut meliputi makhluk hidup (mikroorganisme, serangga, dll), udara, air, sinar matahari dan unsur hara. Bayangkan jika salah satu dari kelima faktor tersebut hilang karena penggunaan pupuk kimia, tentunya produktivitas tanaman yang Anda rawat seperti anak sendiri akan berkurang, bukan?

Terbunuhnya Mikroba Tanah Akibat Penggunaan Pupuk Kimia Berlebih
Tanah memiliki beberapa unsur komposisi yang menjadikannya lebih bernutrisi bagi tanaman di atasnya. Secara umum, dalam tanah terkandung udara (20% s/d 30%), mineral (45% s/d 55%), air (20% s/d 30%), bahan organik (4%), dan mikroorganisme (1%). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpullkan bahwa mikro organisme merupakan unsur paling kecil di tanah, namun siapa sangka, unsur terkecil ini memiliki peran yang cukup besar terhadap kesburuan tanah.

Menurut kementrian pertanian dalam portnal online-nya menyebut bahwa mikroorgaisme tanah memiliki beberapa peran, seperti menghasilkan enzim, hormon, dan vitamin dalam proses penyuburan tanah. Selain itu, mikroorganisme memiliki peran dekomposer, yaitu mampu menguraikan zat organik, memperbaiki sifat kimia, sifat fisik, dan sifat biologi tanah. Tidak hanya itu, mereka mampu mengatur keseimbangan unsur hara dan menghasilkan asam karbol (phenol) yang mampu meningkatan daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit.

Dengan kemampuan di atas, mikroorganisme tidak hanya penting bagi tanah, tapi secara tidak langsung, juga penting bagi tumbuhan. Maka dari itu, kini hadir berbagai teknologi dikembangkan guna meningkatkan jumlah mikroorganisme dalam tanah. Salah satunya adalah praktek inokulasi. Praktek ini berfungsi agar tanah memiliki berbagai mikroba unggul hasil skrining (cloning).

Jika penggunaan pupuk kimia terus menenerus dilakukan, maka bukan tidak mungkin mikroorganisme ini akan mati dan membunuh kesuburan tanah itu sendiri. Maka dari itu, telah banyak petani yang kini berpindah hati ke pupuk organik, demi keberlangsungan kesuburan tanahnya.

Namun, apakah menggunakan pupuk organik saja cukup? Lagi-lagi jawabannya tidak. Menggunakan pupuk organik memang mampu mempertahankan kesehatan tanah, namun tidak meningkatkan produktivitas tanaman dan ketahanannya. Masalah ini telah menjadi tanda tanya besar bagi petani, karena tindakan yang diambil seluruhnya memiliki resiko kerugian tersendiri. Oleh karena itu, kini telah lahir sebuah pengolahan unsur hara yang memadukan antara pupuk organik dan pupuk hayati. Hasil pengolahan tersebut bernama Pupuk Organik EcoFarming.

 

Order

 

Peluang usaha dengan potensi pendapatan jutaan rupiah perminggu, bergabunglah bersama kami!

 

jual pupuk organik serbaguna eco farming